BABIIIADAB KEPADA SAUDARA, TEMAN DAN TETANGGA. Assalamu'alaikum anak-anak, semoga dalam keadaan sehat semua ya. Dalam pertemuan pertama setelah PTS ini kita akan masuk ke tema baru yakni Adab kepada Saudara, Teman Dan Tetangga. Tujuan pembelajaran dari tema tersebut adalah sebagai berikut : Menghayati dan meyakini adab yang baik dalam
Assalamualaikumwarahmatullahi wabarakatuh, kajian Iringi akhlaq dengan ilmu ini Umi Mimi ambil dari Youtube Rizal Yuliar Putrananda, jangan lupa subscribe share, like, comment di video Youtubernya ya, karena kajian Iringi akhlaq dengan ilmu ini bukan milik Umi Mimi, insyaAllah bermanfaat sebagai tambahan ilmu untuk bekal kita, dan pemberi materi kajian berserta timnya diberikan barokah yang
KisahMalik bin Dinar menegur tetangganya dan munculnya suara ghaib membuat sang tetangga bertobat. (Ilustrasi : Ist) Farid al-Din Attar dalam bukunya berjudul Tadhkirat al-Auliya' berkisah, ada seorang pemuda yang tinggal di sekitar rumah Malik, dia sangat bejat dan berakhlak rendah. Malik bin Dinar terus-menerus merasa sedih karena
Hamba yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta'ala adalah yang paling baik akhlaknya." Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala Bahkan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau mengatakan:
Tuhanmemberikan jaminan kepada Israel karena Israel putus asa. Aib dan sengsara akibat Pembuangan menjadi alasan kuat Israel untuk merasa ditinggalkan oleh Allah. Karenanya, "pernyataan yang membangkitkan semangat (ay. 15, 16), ialah bahwa kasih Allah melebihi kasih dari ibu yang mana pun. Para perusak dari Kasdim pasti lenyap dilupakan, dan
Artinya "Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh." (QS. An Nisa: 36). Nabi shallallahu 'alaihi wassallam juga bersabda,
. Yang dinamakan tetangga mencakup seorang muslim dan seorang kafir, seorang ahli ibadah dan seorang fasik, teman dan musuh, orang asing dan orang senegri, orang yang bisa memberi manfaat dan orang yang memberi madharat, orang dekat dan orang jauh serta yang paling dekat dengan rumahnya dan paling jauh. Ada beberapa pendapat tentang batasan tetangga Al-Uza’i berpendapat Empat puluh rumah dari setiap arah’. Ibnu Syihab juga berpendapat demikian. Ali bin Abi Thalib berkata Siapa saja yang mendengar panggilan, maka dia adalah tetangga masjid’. Sekelompok manusia berkata ’Barangsiapa tinggal bersama seseorang disuatu tempat atau kota, maka dia adalah tetangga. Rasulullah Saw bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik manusia kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya". HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Banyak cara dan kiat untuk menjadi tetangga terbaik dan mendapatkan simpati dan cinta para tetangga, serta merasakan tulus dan mulianya kasih sayang dari mereka. Di antara adab-adab yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Islam adalah sebagai berikut 1. Tidak Menyakiti Tetangga dan Memuliakannya. Tidak salah lagi bahwa menyakiti tetangga adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk di antara dosa-dosa besar yang wajib untuk dijauhi. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya". Muttafaq 'alaih Beliau Saw juga bersabda, "Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, "Siapa ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab, "Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahyu anhu ia berkata, "Wahai Rasulullah! Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau Saw menjawab, "Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?" HR. al-Bukhari 2. Memulai Salam. Memulai salam adalah bagian dari tanda-tanda tawadhu rendah hati seseorang dan tanda ketaatannya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt berfirman, وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ "…Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." QS. 1588. Begitu juga menebarkan salam dapat menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. Rasulullah Saw bersabda, "… Maukah aku beritahu kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai Tebarkan salam di antara kalian." HR. Muslim 3. Bermuka Berseri-seri ceria saat Bertemu. Berwajah berseri-seri dan selalu tersenyum saat bertemu dengan para shahabatnya adalah merupakan kebiasaan Rasulullah Saw. Dari Jarir bin Abdullah ra ia berkata, “Tidak pernah Rasulullah Saw melihatku kecuali ia tersenyum padaku." 'alaih. 4. Menolong Saat dalam Kesulitan. Di antara memelihara dan menjaga hak-hak bertetangga adalah dengan menolong tetangga saat dalam kesulitan/ saat ia membutuhkan. Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya asy'ariyyin suku asy'ari adalah jika perbekalannya habis, atau jika persediaan makanan untuk keluarganya di Madinah tinggal sedikit, mereka mengumpul kan apa yang mereka miliki dalam satu kain, lalu mereka membagikannya di antara mereka pada tempat mereka masing-masing dengan sama rata. Mereka adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari mereka." HR. Muttafaq 'alaih. 5. Memberikan Penghormatan yang Istimewa. Intervensi dalam urusan pribadi tetangga adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam bertetangga. Seperti menanyakan hal-hal yang sangat pribadi. Contoh “Berapa gajimu?” “Berapa pengeluaranmu tiap bulan?” “Berapa uang simpananmu?” “Kamu punya berapa rekening?” Dan lain sebagainya. Seorang muslim yang baik adalah seorang yang memperhatikan tata krama dalam bertetangga, tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak menanyakan urusan-urusan orang lain yang bersifat pribadi. Nabi Saw juga bersabda, "Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya." HR. at-Tirmidzi. 6. Menerima Udzur permohonan maaf. Bersikap toleransi dengan tetangga, dan lemah lembut dalam berinteraksi dengannya merupakan salah satu kiat untuk menarik simpati tetangga. Contohnya Dengan menerima permohonan maaf darinya, dan menganggap seolah-olah ia tidak pernah melakukan kesalahan tersebut. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Bahkan yang lebih utama adalah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Sikap inilah yang dapat menambah kecintaan tetangga kepada kita. 7. Menasehati dengan Lemah Lembut. Manusia yang berakal tentu tidak akan menolak nasehat, dan tidak pula membenci orang yang menasehatinya. Tetapi umumnya manusia tidak menerima kalau dirinya dinasehati dengan cara dan sikap yang kasar serta tidak beretika. Allah Swt sungguh telah memuji Nabi Saw dan mengaruniakan sifat lemah lembut kepada beliau, sebagai- mana firman-Nya, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ artinya, "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…" QS. Ali 'Imran 159. Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan." HR. Muttafaq 'alaih. 8. Menutup Aib. Seorang mu'min adalah seorang yang mencintai saudara-saudaranya, menutup aibnya, bersabar atas kesalahannya, dan menginginkan saudaranya selalu mendapatkan kebaikan ,taufiq serta istiqamah. Dengan sikap ini pula kita akan meraih simpati dan cinta tetangga. Nabi Saw bersabda, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat." HR. Muslim. 9. Saling Berkunjung. Nabi Saw bersabda tentang keutamaan berkunjung ini, "Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung. Maka Allah Swt mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Malaikat tadi bertanya kepadanya, "Mau ke mana kamu?” Lalu ia menjawab, "Saya mau mengunjungi saudaraku di kampung." Lalu ia bertanya kembali, "Apa kamu ingin mengambil hakmu darinya?” Ia menjawab, "Tidak, tetapi karena saya mencintainya karena Allah”. Dia berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Swt kepadamu, dan sesungguhnya Allah Swt mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya." HR. Muslim. Seseorang hendaknya mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi tetangganya. Tidak mendatanginya dengan tiba-tiba atau tanpa mengabarinya terlebih dahulu atau meminta izin kepadanya. Dan hendaklah tidak membuat tetangga merasa terbebani atau direpotkan dengan kunjungannya. Maka hendaklah ia tidak terlalu sering berkunjung, khawatir kalau hal itu membosankannya dan membuatnya menjauhkan diri darinya. Dan juga hendaklah tidak duduk berlama-lama saat berkunjung. Kiat-kiat inilah yang dapat membuat tetangga senang menyambut kunjungan kita, bahkan merindukan kedatangan kita untuk kali berikutnya. 10. Bersikap Ramah. Di antara sekian banyak kiat sukses meraih simpati para tetangga dan mempererat hubungan di antara para tetangga adalah dengan bersikap ramah tamah terhadap mereka dengan ungkapan dan ucapan yang baik dan lembut, atau dengan memberikan hadiah istimewa kepadanya, atau dapat pula dengan mengundang mereka untuk makan di rumah kita, dan lain sebagainya. Allah Swt berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ artinya, "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan si penerima. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun". QS. Al-Baqarah 263. Nabi Saw bersabda, "Saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." HR. al-Bukhari. Demikianlah sahabat bacaan madani adab atau etika terhadap tetangga dan masyarakat. Mudah-mudahan adab-adab tersebut bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.
Islam mengajak kita untuk membentuk bangunan masyarakat yang megah yang ditopang oleh bagian-bagian bangunan yang menguatkan satu sama lain. Salah satu bagian bangunan yang utama adalah kehidupan bertetangga yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Allah Swt berfirman وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي القُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالْجَارِ الجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ Ayat ini menegaskan tentang penting berbaik-baik kepada tetangga, pentingnya menunaikan hak tetangga, memelihara kehormatannya. Karena begitu pentingnya bertetangga, Allah menyebutnya setelah berbuat baik kepada kedua orang tua dan karib kerabat. Berbaik-baik kepada tetangga yang dekat tempat atau aqidah الْجارِ ذِي الْقُرْبَى maupun tetangga yang jauh orang asing atau bahkan non-Muslim الْجارِ الْجُنُبِ . Ayat ini tidak membedakan perbuatan baik kepada tetangga yang dekat maupun tetangga yang jauh, tetangga Muslim maupun non-Muslim. Dalam haditsnya Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada pengkhususan berbaik-baik kepada tetangga manapun. مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ» "Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbaik-baik kepada tetangganya." خَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ» "Sebaik-baiknya tetangga di sisi Allah adalah yang berbaik-baik kepada tetangganya." Bahkan keutamaan dan kebaikan akan didapatkan oleh seseorang melalui berbaik-baik kepada tetangga. Dan orang itu dikenal sebagai orang yang baik, itu datangnya dari penilaian tetangganya. Sebagaimana dialog Rasulullah Saw dan sahabatnya فقَدْ جاءَهُ رَجُلٌ فقالَ كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ إِذَا أَحْسَنْتُ وَإِذَا أَسَأْتُ؟ فَقَالَ له النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَمِعْتَ جِيرَانَكَ يَقُولُونَ قَدْ أَحْسَنْتَ فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا سَمِعْتَهُمْ يَقُولُونَ قَدْ أَسَأْتَ فَقَدْ أَسَأْتَ» Seorang sahabat mendatangi Rasulullah Saw, dan bertanya kepadanya “bagaimana caranya supaya aku tahu bahwa aku adalah baik dan aku adalah buruk?” Nabi SAW menjawab “ketika kamu mendengar tetanggamu berkomentar, “kamu orang baik”, maka kamu adalah orang yang baik; dan kalau kamu mendengar mereka berkomentar, “kamu orang buruk”, maka kamu adalah orang yang buruk. Nabi Muhammad mengabarkan bahwa berbaik-baik kepada tetangga juga menjadi sebab datangnya syafa’at, yaitu ketika saksi tetangga atas dirinya diterima oleh Allah Swt dan Allah menambahkan dengan mengampuni dosanya. مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ جِيرَانِهِ الأَدْنَيْنَ إِلاَّ قَالَ قَدْ قَبِلْتُ عِلْمَكُمْ فِيهِ، وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ» "Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia dan empat orang tetangga dekat bersaksi tentangnya, kecuali Allah Swt berfirman sungguh Aku telah menerima pengetahuanmu tentangnya, dan aku mengampuni bagian yang kamu tidak mengetahuinya." Selain itu, Islam mengaitkan erat kesempurnaan iman dengan berbaik-baik kepada tetangga, seperti sabda Nabi Muhammad. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضيَ اللهُ عنهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ». قَالُوا وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الْجَارُ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَوَائِقُهُ؟ قَالَ شَرُّهُ ». Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda “demi Allah, seseorang tidak beriman, demi Allah seseorang tidak beriman, demi Allah seseorang tidak beriman. Para sahabat bertanya siapa itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab “tetangga yang menjadikan tetangganya tidak aman oleh bawaiqahnya. Para sahabat bertanya lagi apa itu bawaiqahnya? Rasulullah SAW menjawab “keburukannya. Hak tetangga terhadap kita itu tak berbilang jumlahnya, di antaranya ucapan salam, wajah berseri penuh ketulusan dan penghormatan, uluran tangan untuk membantu kesulitan hidupnya, pengetahuan atas permasalahan hidup tetangga dan keadaannya, penjagaan aibnya, terjaganya pandangan pada auratnya, penghargaan atas privasinya, ucapan selamat atas kesuksesannya, berbela sungkawa atas musibah yang menimpanya, kunjungan saat sakitnya, bantuan kepada seluruh keluarganya, lemah lembut dalam berinteraksi dan bertutur kata, bimbingan kepada kebaikan, nasihat yang santun dan lembut. Itulah semua hak tetangga atas kita, semoga saja kita dapat memenuhi hak tetangga kita. Dan kelalaian kita sehingga terjadi pengabaian hak tetangga ini, akan ditanyakan pada hari kiamat. Karena Nabi Muhammad Saw pernah bersabda قالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَمْ مِنْ جَارٍ مُتَعَلِّقٌ بِجَارِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ يَا رَبِّ هَذَا أَغْلَقَ بَابَهُ دُونِي، فَمَنَعَ مَعْرُوفَهُ» Rasulullah SAW bersabda “betapa banyak tetangga terkait dengan tetangganya yang lain pada hari Kiamat, seseorang berkata duhai Tuhanku, ini kok pintu menutup sendiri, menghalangi kebaikannya.” Berbaik-baik dengan tetangga tidak harus dengan sesuatu yang besar, bisa dengan yang kecil dan sederhana, karena Allah Taala menghargai kebaikan itu walaupun sedikit dengan sesuatu hal yang mudah, seperti sabda Nabi Muhammad Saw قال صلى الله عليه وسلم يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا، وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ» Rasulullah SAW bersabda “wahai para wanita Muslim janganlah tetangga merendahkan tetangga yang lain walau dengan sop tulang kambing.” Berbaik-baik dengan tetangga menjadi salah satu sebab dari hadirnya kebahagiaan di dunia, karena tetangga yang shalih akan membuat hidup ini lapang dan nyaman, seperti sabda Nabi Muhammad Saw قالَ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ» Rasulullah SAW bersabda empat hal merupakan kebahagiaan “wanita shalihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman.” Orang shalih terdahulu mendahulukan mencari tetangga sebelum mencari rumah, seperti diceritakan dalam kisah berikut Seorang tetangga Abu Hamzah as-Sukkari menjual rumahnya. Ketika ditanya tentang harganya, dia menjawab harga rumahnya dua ribu, dan ditambah dua ribu untuk menjadi tetangga Abu Hamzah. Berita ini sampai kepada Abu Hamzah, dan Abu Hamzah menghampiri tetangganya itu dengan membawa uang empat ribu sambil berkata ambillah uang ini dan jangan sampai menjual rumahmu. Fathoni Ahmad
Muslimahdaily - Abu Hurairah ra. berkata , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangga. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu” HR Bukhari dan Muslim. Hadits diatas menghimpun tiga hal yang termasuk kepada akhlak terpuji di dalam hubungan antar anggota masyarakat, yaitu selalu mengucapkan kata-kata yang baik, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu. Di dalam haditsnya, Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., seorang pelayan Rasulullah, berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang diantara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” HR Bukhari dan Muslim. Hadits tersebut menunjukkan bagaimana hendaknya seorang muslim beradab dan berakhlak antar sesamanya di dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dengan tetangga kita. Tetangga kita adalah hubungan yang terdekat di kehidupan bermasyarakat. Bukankah seorang tetangga yang akan mengetahui dan membantu kita seandainya kita tertimpa musibah? Tetangga juga yang ikut merayakan kebahagiaan bersama kita selain keluarga kita. Diantara tanda kesempurnaan iman dan Islam adalah berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakitinya. Berbuat baik kepada tetangga merupakan keharusan. Islam sangat memperhatikan masalah ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jibril terus mewasiatkanku perihal tetangga. Hingga saya mengira bahwa tetangga akan menjadi ahli waris”. Bahkan, Allah SWT mensejajarkan perintah berbuat baik kepada tetangga dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya dan setelah berbuat baik kepada orang tua dan kerabat. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah An-Nisaa’ ayat 36, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim. Oleh karena itu, menyakiti tetangga merupakan suatu dosa dan akan berbuah siksa yang pedih. Bahkan, seperti yang disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang tidak menghormati tetangga maka imannya belum sempurna. Na’udzubillah. Bukhari meriwayatkan dari Abi Syarih ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya, “Siapa yang tidak sempurna imannya, Ya Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”. Imam Ahmad dan Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya.” Rasulullah menjawab, ”Ia tidak baik, dan tempatnya adalah neraka”. Disebutkan kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam, bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bersedekah secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ia masuk surga”. Ada banyak cara untuk berbuat baik kepada tetangga, di antaranya kebutuhannya, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Umar ra. berkata, “Jangan sampai seorang mukmin kenyang, sedang tetangganya kelaparan”.Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahui”. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepadanya, “Jika kamu memasak makanan yang berkuah, maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah mereka bagian”. sesuatu yang bermanfaat Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jangan sampai kamu melarang tetanggamu memasang kayu pada dindingmu” HR Bukhari dan Muslim. hadiah Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Janganlah menyepelekan hadiah kepada tetangga, meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya” HR Bukhari Demikianlah salah satu akhlak yang baik yang diajarkan Islam kepada umatnya, yaitu menghormati tetangga, sebagaimana yang dapat kita lihat bahwa Allah SWT, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi petunjuk untuk menghormati tetangga dalam Al-Qur’an dan hadits. Wallahu a’ “Al-Wafi” Syarah kitab Arba’in An-Nawawiyah, oleh Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu.
JAKARTA - Islam mengajarkan pentingnya berakhlak yang baik terhadap tetangga. Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW sendiri. Beliau bersabda, "Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman, yakni orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya" HR Ahmad dan Bukhari. Penegasan itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah an-Nisaa' ayat 36. Artinya, "Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh ...." Cukup banyak hadis yang memerintahkan agar berbuat baik kepada tetangga. Sabda Nabi SAW, ''Jibril selalu berpesan kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga sehingga aku kira kemungkinan kelak tetangga akan diberi waris" HR Bukhari-Muslim. Rasulullah SAW juga mengaitkan iman seseorang pada Allah SWT dan Hari Kiamat dengan sikap umatnya terhadap tetangga. "Barangsiapa yang benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian,'' tegas Rasulullah, "maka janganlah mengganggu tetangganya" HR Bukhari. Lantas, apa saja kewajiban seorang tetangga terhadap tetangga lainnya? Pertanyaan ini pernah disampaikan seorang sahabat bernama Mu'awiyah bin Jundub kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab, "Jika tetanggamu sakit, engkau menjenguknya. Jika tetanggamu meninggal dunia, maka engkau mengantar jenazahnya. Jika ia meminjam uang, engkau pinjami. Jika kekurangan, engkau tutupi, dan jika mendapat kebaikan, engkau beri selamat. Jika tetanggamu ditimpa musibah, engkau menghiburnya. Jangan meninggikan bangunanmu di atas bangunannya sehingga menghalangi datangnya angin kepada rumahnya. Jangan ganggu tetanggamu dengan bau masakanmu kecuali kamu memberikan sebagian makanan itu kepadanya." Wallahu a'lam. sumber Pusat Data RepublikaBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Jawaban untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan termotivasi untuk senantiasa menjalankan sungguh-sungguh untuk menjauhi segala menjadi lebih tenang, damai, tidak resah, tidak galau, tidak sosok yang peduli dengan keadaan lingkungan untuk senantiasa melakukan amal untuk selalu mencegah bersyukur dengan apa yang didapatkan atau dalam menghadapi setiap problematika dalam hidup untuk berakhlakul karimah setiap waktunya JawabanMelaksanakan sholat 5 kali Membaca Al quran Menghafal asmaul husna Menghafal juz amma
Oleh IMAM NUR SUHARNOOLEH IMAM NUR SUHARNO Islam agama rahmah yang penuh kasih sayang. Hidup rukun dalam bertetangga adalah akhlak yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan poin penting tersebut, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tenteram, aman, dan nyaman. Sebab, saking penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang Muslim, Islam pun memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga QS an-Nisa [4] 36. Rasulullah SAW bersabda, “Jibril tidak henti-hentinya mengingatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku menyangka bahwa Jibril hendak menjadikannya sebagai ahli waris” HR Bukhari dan Muslim. Di antara akhlak terhadap tetangga adalah memberikan hak rasa aman dan nyaman. Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman akan kejahatannya.” Bawaiq berarti berbagai macam tipu daya serta kejahatan, baik yang dilakukan dengan tangan maupun lisan. “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” HR Tirmidzi dan Abu Dawud. Menyakiti tetangga juga termasuk perbuatan berdosa besar. Rasul SAW bersabda, “Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan jika dibandingkan dengan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya. Seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih besar jika dibandingkan dengan dia mencuri satu rumah tetangganya” HR Ahmad. Hal yang termasuk akhlak dalam bertetangga adalah tidak menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya” HR Bukhari. Menolongnya jika ia meminta pertolongan, membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit, menghiburnya jika ia mendapat musibah, dan mengucapkan selamat jika ia bahagia. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya” HR Bukhari. Hal yang termasuk akhlak dalam bertetangga adalah tidak menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan. Bersikap dermawan dengan memberikan kebaikan kepada tetangga. Rasulullah SAW bersabda “Hai wanita-wanita Muslimat, janganlah seorang tetangga menghinakan kepada tetangganya yang lain sekalipun yang dihadiahkan itu berupa kaki kambing” Muttafaq alaih. Menghormati dan menghargai tetangga dengan tidak melarangnya meletakkan kayu di temboknya, tidak menjual atau menyewakan apa saja yang menyatu dengan temboknya, dan tidak mendekat ke temboknya hingga ia bermusyawarah dengannya. Semoga Allah SWT membimbing kita kaum Muslimin agar menjadi tetangga yang baik dan memperlakukan tetangga dengan baik. Amin.
diantara hikmah berakhlak kepada tetangga adalah